Di level kompetisi yang sangat tinggi, sering kali bukan kekuatan fisik yang menentukan siapa yang berdiri di podium utama, melainkan ketangguhan pikiran. Bagi para atlet BAPOMI Jambi, aspek sains mental kini diposisikan setara dengan latihan fisik di lapangan. Fenomena kecemasan tanding atau competitive anxiety adalah tantangan psikologis yang dapat melumpuhkan koordinasi motorik yang telah dibangun melalui ribuan jam latihan. Dengan menggunakan pendekatan ilmiah, para atlet diajarkan untuk memahami bahwa stres adalah respons fisiologis yang dapat dikelola, bahkan dimanfaatkan untuk meningkatkan fokus dan kewaspadaan, asalkan berada dalam kendali yang tepat.
Secara psikofisiologis, kecemasan tanding memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Bagi atlet BAPOMI Jambi, hal ini sering kali bermanifestasi dalam bentuk detak jantung yang terlalu kencang, pernapasan dangkal, hingga ketegangan otot yang tidak perlu. Dalam kajian sains mental, salah satu teknik untuk mengontrol kecemasan ini adalah melalui regulasi sistem saraf otonom menggunakan latihan pernapasan ritmis dan visualisasi terkendali. Dengan mengatur napas, atlet dapat mengirimkan sinyal ke otak untuk menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik, sehingga mereka tetap mampu berpikir jernih dan melakukan eksekusi teknik secara presisi meskipun berada di bawah tekanan ribuan penonton atau rival yang tangguh.
Penerapan strategi mental ini di Jambi melibatkan proses pra-pertandingan yang sangat sistematis. Atlet diajarkan untuk membangun rutinitas mental yang konsisten, mulai dari manajemen waktu hingga teknik penenangan diri. Salah satu metode yang efektif adalah self-talk positif yang berbasis data, di mana atlet mengingatkan diri mereka tentang kesiapan fisik dan hasil latihan yang telah mereka jalani. Hal ini membantu mereduksi pikiran negatif yang sering menjadi pemicu kecemasan. Sains mental juga mengajarkan konsep “zona performa optimal” (flow state), di mana seorang atlet berada dalam kondisi fokus total tanpa adanya gangguan pikiran internal. Mencapai kondisi ini membutuhkan latihan mental yang berulang, sama halnya dengan melatih otot tubuh.