Sepatu merupakan senjata utama bagi seorang atlet, terutama bagi mereka yang bergelut di cabang olahraga lari, atletik, atau olahraga lapangan lainnya. Namun, banyak atlet mahasiswa yang sering kali mengabaikan kondisi fisik sepatu mereka hingga terjadi cedera. Di Jambi, para pembina olahraga mulai memperkenalkan edukasi mengenai Analisis Keausan Sepatu. Pemahaman ini sangat penting agar para mahasiswa dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganti perlengkapan mereka guna menjaga performa maksimal dan yang paling utama, menghindari risiko cedera jangka panjang pada kaki dan persendian akibat hilangnya fungsi bantalan sepatu.
Faktor utama yang menjadi dasar analisis ini adalah jarak tempuh akumulatif yang telah dilalui oleh sepatu tersebut. Secara umum, sepatu olahraga lari memiliki batas usia efektif antara 500 hingga 800 kilometer, tergantung pada berat badan atlet dan jenis permukaan lintasan di Jambi yang sering kali bervariasi antara aspal keras dan trek sintetis. Melalui Analisis yang cermat, atlet diajarkan untuk mencatat jarak lari mereka setiap harinya. Ketika sepatu telah melewati batas jarak tempuh tertentu, material midsole yang berfungsi meredam benturan akan mulai mengalami kompresi permanen dan kehilangan elastisitasnya, sehingga gaya impak dari tanah akan langsung diteruskan ke sendi lutut dan pinggul atlet.
Selain jarak tempuh, pola keausan pada telapak sepatu (outsole) memberikan informasi berharga mengenai biomekanika lari sang atlet. Mahasiswa di Jambi dilatih untuk melihat bagian mana dari sepatu mereka yang paling cepat menipis. Jika keausan terjadi lebih banyak di sisi dalam atau luar, itu menandakan adanya masalah pronasi atau supinasi pada cara mereka berlari. Pengetahuan ini memungkinkan atlet untuk mencari jenis sepatu pengganti yang memiliki dukungan (support) yang tepat sesuai dengan bentuk kaki mereka. Mengganti gear berdasarkan data teknis seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengganti sepatu karena alasan estetika atau model terbaru.
Pentingnya mengganti Gear secara berkala juga berkaitan dengan efisiensi energi. Sepatu yang sudah haus tidak hanya gagal meredam benturan, tetapi juga gagal memberikan pengembalian energi (energy return) saat melakukan dorongan kaki. Hal ini membuat otot harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan kecepatan yang sama, yang pada akhirnya mempercepat kelelahan saat pertandingan. Bagi atlet mahasiswa di Jambi, kedisiplinan dalam memantau kondisi perlengkapan adalah bagian dari profesionalisme. Mereka harus sadar bahwa investasi pada sepatu baru jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya pengobatan cedera tendon atau patah tulang stres (stress fracture) akibat penggunaan sepatu yang sudah tidak layak.