Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan kerugian material, tetapi juga menyisakan luka psikologis yang mendalam, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak. Menyadari hal tersebut, gerakan Jambi Sigap diluncurkan oleh para mahasiswa yang tergabung dalam BAPOMI sebagai bentuk kepedulian yang menyeluruh. Tidak hanya fokus pada bantuan logistik berupa pangan dan sandang, para mahasiswa ini memiliki visi untuk membantu memulihkan kondisi mental para korban. Inisiatif ini lahir dari pemahaman bahwa pemulihan batin merupakan fondasi penting agar masyarakat dapat kembali bangkit dengan semangat baru setelah tertimpa musibah.

Program utama yang dijalankan oleh para Mahasiswa BAPOMI kali ini adalah pengiriman tenaga ahli dan relawan terlatih yang memiliki latar belakang pengetahuan psikologi dan komunikasi. Mereka menyadari bahwa di tenda-tenda pengungsian, suasana duka dan ketidakpastian sering kali menyebabkan stres berkepanjangan bagi warga. Dengan menggunakan pendekatan yang humanis dan penuh empati, para mahasiswa ini berusaha menciptakan ruang aman bagi para korban untuk berbagi cerita dan melepaskan beban emosional mereka. Gerakan ini menunjukkan kematangan mahasiswa Jambi dalam menganalisis masalah pasca bencana secara komprehensif.

Langkah konkret yang dilakukan adalah saat organisasi memutuskan untuk segera kirim tim trauma healing yang terdiri dari mahasiswa berprestasi dan relawan yang memiliki kemampuan interpersonal yang baik. Tim ini dibekali dengan berbagai metode pemulihan trauma sederhana namun efektif, seperti terapi bermain, sesi bercerita, hingga konseling ringan bagi orang dewasa. Kehadiran mereka di lapangan sangat membantu dalam mengalihkan perhatian warga dari kesedihan akibat kehilangan harta benda. Mahasiswa Jambi bekerja tanpa pamrih, menghabiskan waktu berhari-hari di posko pengungsian demi memastikan kondisi psikologis para korban tetap terjaga dan stabil.

Fokus utama dari tim relawan ini adalah beroperasi di berbagai lokasi bencana yang tersebar di wilayah terdampak. Mahasiswa mengajak anak-anak di pengungsian untuk tetap ceria melalui kegiatan edukatif dan kreatif. Dengan bermain dan belajar bersama, anak-anak dapat sedikit melupakan ketakutan mereka terhadap bencana yang baru saja terjadi. Selain itu, tim juga memberikan pendampingan kepada para orang tua agar mereka mampu memberikan dukungan emosional yang tepat bagi anggota keluarganya masing-masing. Pendekatan ini sangat krusial agar dampak psikologis jangka panjang seperti gangguan stres pasca trauma (PTSD) dapat diminimalisir sedini mungkin.

Kategori: Berita