Masalah modal sering kali menjadi tembok besar yang menghalangi pelaku usaha kecil untuk berkembang, terutama bagi para pedagang kaki lima atau pelaku industri rumahan yang terdampak fluktuasi ekonomi selama bulan Ramadan. Di Provinsi Jambi, sebuah gerakan inovatif muncul dari inisiatif mahasiswa yang peduli pada penguatan ekonomi rakyat. Mereka tidak hanya memberikan bantuan berupa barang konsumsi, melainkan fokus pada penyaluran modal mikro. Program ini dirancang untuk memberikan suntikan dana stimulan bagi para pengusaha kecil agar mereka dapat menambah stok dagangan atau memperbaiki sarana usaha mereka di tengah momentum belanja lebaran.
Dana yang disalurkan merupakan akumulasi dari berkah donasi yang dikumpulkan oleh mahasiswa dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, alumni, hingga masyarakat umum yang percaya pada transparansi gerakan mahasiswa. Mahasiswa bertindak sebagai pengelola dana yang amanah, melakukan kurasi terhadap calon penerima bantuan berdasarkan potensi keberlanjutan usahanya. Fokus utama penyaluran ini adalah memastikan bahwa setiap rupiah yang diberikan dapat diputar kembali untuk menghasilkan keuntungan, sehingga kemandirian ekonomi warga dapat tercipta secara sistematis dan bukan sekadar bantuan yang habis sekali pakai.
Langkah mahasiswa Jambi dalam menjalankan program ini melibatkan pendampingan usaha yang ketat. Setelah modal diberikan, para penerima manfaat tidak dibiarkan begitu saja. Mahasiswa secara berkala mengunjungi para pedagang binaan untuk memantau penggunaan dana dan memberikan saran mengenai manajemen stok atau pemasaran digital sederhana. Pendekatan ini memastikan bahwa modal yang diberikan benar-benar digunakan untuk produktivitas usaha, bukan untuk konsumsi pribadi yang tidak mendesak. Sinergi antara pemberian dana dan pendampingan intelektual inilah yang menjadi keunggulan dari program pemberdayaan ekonomi di wilayah Jambi ini.
Penerima manfaat dari modal mikro ini sangat beragam, mulai dari penjual takjil, perajin anyaman khas Jambi, hingga ibu-ibu pembuat kue kering rumahan. Banyak dari mereka yang sebelumnya kesulitan menambah kapasitas produksi karena ketiadaan dana cadangan. Dengan adanya bantuan modal ini, mereka bisa membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar dengan harga yang lebih murah, sehingga margin keuntungan yang didapat pun meningkat. Kehadiran mahasiswa di pasar-pasar tradisional dan pemukiman padat memberikan harapan baru bagi para pejuang ekonomi keluarga untuk bangkit dan bersaing secara sehat.