Keberhasilan seorang atlet mahasiswa meraih medali emas atau naik ke podium juara sering kali menjadi pusat perhatian utama media dan masyarakat. Namun, di balik setiap tetes keringat dan kemenangan yang diraih di bawah naungan Bapomi (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia) wilayah Jambi, terdapat satu sosok kunci yang perannya sangat vital namun sering kali luput dari sorotan kamera. Sosok tersebut adalah seorang pelatih. Ungkapan terima kasih yang tulus layak diberikan kepada mereka yang telah mendedikasikan waktu, tenaga, bahkan pemikiran strategisnya untuk membentuk karakter dan kemampuan teknis para mahasiswa atlet dari titik nol hingga mencapai puncak prestasi.
Peran seorang pelatih dalam dunia olahraga mahasiswa di Jambi melampaui sekadar memberikan instruksi teknik di lapangan. Mereka sering kali berperan sebagai orang tua kedua, mentor, bahkan psikolog bagi para atlet yang sedang berjuang menyeimbangkan antara kuliah dan latihan. Mengingat mahasiswa atlet berada dalam masa transisi menuju kedewasaan, tekanan yang mereka hadapi sangat kompleks. Pelatih adalah orang yang paling mengerti kapan harus memberikan dorongan keras agar atlet melampaui batas kemampuannya, dan kapan harus memberikan pelukan serta kata-kata motivasi saat sang atlet mengalami kegagalan atau kejenuhan akademik.
Di Jambi, banyak pelatih yang harus bekerja dengan fasilitas yang mungkin belum sepenuhnya sempurna, namun kreativitas dan dedikasi mereka mampu menutupi segala keterbatasan tersebut. Mereka merancang program latihan yang presisi, memantau perkembangan fisik setiap individu, hingga memastikan disiplin atlet tetap terjaga di luar jam latihan. Kesuksesan Bapomi Jambi dalam berbagai ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) adalah bukti nyata dari tangan dingin para pelatih ini. Mereka adalah arsitek di balik layar yang menyusun strategi kemenangan, menganalisis kekuatan lawan, dan menanamkan mentalitas juara ke dalam jiwa setiap mahasiswa yang mereka bimbing.
Selain aspek teknis, pelatih juga menanamkan nilai-nilai integritas dan sportivitas. Mereka mengajarkan bahwa kemenangan sejati tidak diraih dengan kecurangan, melainkan melalui kerja keras yang jujur. Bagi mahasiswa, pelajaran hidup dari sang pelatih ini sering kali lebih membekas daripada materi kuliah di dalam kelas. Hubungan emosional yang terbangun antara pelatih dan atlet menciptakan ikatan kekeluargaan yang kuat. Rasa hormat yang ditunjukkan mahasiswa kepada pelatihnya adalah cerminan dari pengakuan atas pengorbanan yang telah diberikan. Tanpa kehadiran sosok yang disiplin dan penuh visi ini, bakat-bakat luar biasa mahasiswa di Jambi mungkin hanya akan menjadi potensi yang terpendam tanpa pernah mencapai kematangan.